Selasa, 12 Februari 2013

Should I Tell Her How I Really Feel? (Part 1)




JUSTIN’S POV
                Aku berjalan menyusuri setapak menghindari kejaran paparazzi. Aku masih bisa mendengar teriakan mereka yang memanggil – manggil namaku. Terkadang paparazzi keterlaluan. Selelu ingin mengteahui apapun yang terjadi pada selebriti. Seharusnya mereka tau bahwa saat ini saat-saat yang sulit bagiku.
Aku mengambil i-phone ku dari saku celana.. Aku menelepon Selena. Aku tau ini bukan saat yang tepat untuk berbicara dengannya. Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku sangat merindukannya. Yah , aku teramat menginginkannya disisiku saat ini.
“Halo? Selena?” Selena tidak langsung  menjawab sahutanku. Iya terdiam cukup lama. Aku mendeham agar dia segera berbicara kepadaku.
“Ya?” Selena Hanya mengeluarkan kata ‘YA?’ Apa dia bercanda? Apa dia benar-benar terluka karna ku?
“Aku ingin kerumahmu. Tunggulah aku.” Aku berbicara sepelan mungkin. Aku tidak ingin membuatnya terganggu.
“Tidak usah. Aku sedang tidak dirumah. Bye.” Selena langsung menutup telfonku. Aku benar-benar telah melukainya. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku berusaha untuk memperbaiki semua ini. Tapi setelah 2 minggu berlalu , sepertinya tidak berhasil.
Aku melanjutkan perjalananku. Akhirnya sampai di depan rumahku. Aku segera masuk dan menuju taman belakangku. Aku duduk di ayunan dimana aku sering berduaan dengan Selena dulu. Namun tidak untuk sekarang. Aku hanya sendiri bersama i-phone ku. Aku memotret diriku apa adanya dan mem-posting ke instagram dengan caption #NeedYouByMySide. Aku juga memposting foto-foto instagramku ke Twitter
Aku mendapat namyak likes dari Beliebers-ku. Aku merasa terhibur dengan komentar mereka yang selalu mendukungku. Akhirnya aku mendapat comment dari orang yang selalu menghiburku , Emma. Dia mengatakan -Sup biebs? Need me?- Ya aku benar-benar membutuhkannya. Aku segera membuka twitter dan mengirim DM ke Emma
“Emma I need you now. Are you free? I’ll go to your apartment”
Emma langsung membalas DM ku.
“Of course Juju. I’ll wait you.
***
Aku turun dari Swaggy car-ku. Lalu aku memasuki apartment Emma dan menuju lantai 18 dengan lift. Aku mengirim pesan kepada Emma bahwa aku telah sampai. Emma langsung membuka pintunya.
Aku melihatnya dari ujung kaki hingga rambutnya yang digerai kesampin. Aku melihat sendal beruangnya beserta pajamas birunya yang bergambar kucing. Dia selalu terlihat manis dan lucu dengan apapun yang dikenakannya. Lalu Aku menata matanya dan berkedip.
“What? Kamu tetap ingin berdiri di depan pintu hingga pagi? Come on, Justy. Get in.” DIa menggenggam tanganku dan menarikku ke dalam , lalu menutup pintu.
“Selly.” Aku langsung memulai curhatanku kepadanya dan dia langsung menyanggahku.
“I know Bieber. I know. Before you’re telling me , I always know.” Emma segera mengajakku duduk.  Ia belutu didepanku dan meletakkan kedua telapak tangannya yang wangi itu ke kedua pipiku. Ia menatapku sangat dalam. Inilah yang membuatku tenang saat bersama nya.
“Ya. Aku berusaha untuk memperbaiki ini semua Em. Aku benar-benar tidak ingin jah darinya. Setelah 2 tahun bersama , aku telah bahagia dengan apa yang dimiliki oleh dirinya. She’s so perfect to me. I can’t describe it Em. Tpi sepertinya aku benar-benar harus pergi darinya.

EMMA’S POV
Aku bisa melihat matanya mulai merah. Sebentar lagi dia akan menangis. Aku lansung menggoyangkan kepalanya dengan tanganku.
“Don’t cry.” Bisikku. Lalu aku mengelus lembut pipinya dan mencium keningnya. Aku bisa merasakan dia menutupkan matanya sangat lama. Aku menahan kecupanku di keningnya. Aku ingin membuatnya tenang terlebih dahulu sebelum aku membantu meringankan masalahnya.
Setelah sekian lama , Aku bisa merasakan tanganya yang kekar melingkar dipinggangku. Kami berpelukkan. Dia memelukku dengan eat dan mencium bahuku. Lalu Justin mendudukanku di pangkuannya. Aku bisa melihat wajahnya yang polos dan tersenyum dengan indah. Dia cekikikan dan suaranya terdengar parau.
“Okay. Now u smile I smile , Justin. Tell me everything.  I’ll be here for you” Aku memulai ercakapan sambil tertawa kecil dan mendekatlan hidungku pada pipinya.
“Yah. Aku sudah memikirkannya cukup lama. Aku tidak ingin menyakiti hati Selly-ku lagi. Aku ingin dia bahagia. Aku ingin dia bebas. Dia tidak perlu menemmuiku lagi. Dia tidak perlu menghadiri setiap konserku. Aku ingin dia bahagia dengan yang lain.”
Aku bisa merasakan satu persatu air matanya menetes membasahi tanganku yang melingkar di lehernya. Sungguh aku tidak kuat. Aku lebih tidak kuat melihatnya menangis daripada dia jalan dengan SellyBear nya. Aku mendekatkan kepalanya ke leherku. Aku tidak sanggup berkata-kata. Memang bkan aku yang memiliki masalah ini. Tapi ini menjadi suatu ‘masalah’ untukku.

TO BE CONTINUED …