JUSTIN’S POV
Aku berjalan
menyusuri setapak menghindari kejaran paparazzi. Aku masih bisa mendengar
teriakan mereka yang memanggil – manggil namaku. Terkadang paparazzi
keterlaluan. Selelu ingin mengteahui apapun yang terjadi pada selebriti. Seharusnya
mereka tau bahwa saat ini saat-saat yang sulit bagiku.
Aku mengambil i-phone ku dari saku
celana.. Aku menelepon Selena. Aku tau ini bukan saat yang tepat untuk
berbicara dengannya. Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku sangat merindukannya.
Yah , aku teramat menginginkannya disisiku saat ini.
“Halo? Selena?” Selena tidak
langsung menjawab sahutanku. Iya terdiam
cukup lama. Aku mendeham agar dia segera berbicara kepadaku.
“Ya?” Selena Hanya mengeluarkan
kata ‘YA?’ Apa dia bercanda? Apa dia benar-benar terluka karna ku?
“Aku ingin kerumahmu. Tunggulah
aku.” Aku berbicara sepelan mungkin. Aku tidak ingin membuatnya terganggu.
“Tidak usah. Aku sedang tidak
dirumah. Bye.” Selena langsung menutup telfonku. Aku benar-benar telah
melukainya. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku berusaha untuk
memperbaiki semua ini. Tapi setelah 2 minggu berlalu , sepertinya tidak
berhasil.
Aku melanjutkan perjalananku. Akhirnya
sampai di depan rumahku. Aku segera masuk dan menuju taman belakangku. Aku
duduk di ayunan dimana aku sering berduaan dengan Selena dulu. Namun tidak
untuk sekarang. Aku hanya sendiri bersama i-phone ku. Aku memotret diriku apa
adanya dan mem-posting ke instagram dengan caption #NeedYouByMySide. Aku juga
memposting foto-foto instagramku ke Twitter
Aku mendapat namyak likes dari
Beliebers-ku. Aku merasa terhibur dengan komentar mereka yang selalu
mendukungku. Akhirnya aku mendapat comment dari orang yang selalu menghiburku ,
Emma. Dia mengatakan -Sup biebs? Need me?-
Ya aku benar-benar membutuhkannya. Aku segera membuka twitter dan mengirim DM
ke Emma
“Emma I need you now. Are you
free? I’ll go to your apartment”
Emma langsung membalas DM ku.
“Of course Juju. I’ll wait you.
***
Aku turun dari Swaggy car-ku.
Lalu aku memasuki apartment Emma dan menuju lantai 18 dengan lift. Aku mengirim
pesan kepada Emma bahwa aku telah sampai. Emma langsung membuka pintunya.
Aku melihatnya dari ujung kaki
hingga rambutnya yang digerai kesampin. Aku melihat sendal beruangnya beserta
pajamas birunya yang bergambar kucing. Dia selalu terlihat manis dan lucu
dengan apapun yang dikenakannya. Lalu Aku menata matanya dan berkedip.
“What? Kamu tetap ingin berdiri
di depan pintu hingga pagi? Come on, Justy. Get in.” DIa menggenggam tanganku
dan menarikku ke dalam , lalu menutup pintu.
“Selly.” Aku langsung memulai
curhatanku kepadanya dan dia langsung menyanggahku.
“I know Bieber. I know. Before
you’re telling me , I always know.” Emma segera mengajakku duduk. Ia belutu didepanku dan meletakkan kedua telapak
tangannya yang wangi itu ke kedua pipiku. Ia menatapku sangat dalam. Inilah
yang membuatku tenang saat bersama nya.
“Ya. Aku berusaha untuk
memperbaiki ini semua Em. Aku benar-benar tidak ingin jah darinya. Setelah 2
tahun bersama , aku telah bahagia dengan apa yang dimiliki oleh dirinya. She’s
so perfect to me. I can’t describe it Em. Tpi sepertinya aku benar-benar harus
pergi darinya.
EMMA’S POV
Aku bisa melihat matanya mulai
merah. Sebentar lagi dia akan menangis. Aku lansung menggoyangkan kepalanya
dengan tanganku.
“Don’t cry.” Bisikku. Lalu aku
mengelus lembut pipinya dan mencium keningnya. Aku bisa merasakan dia
menutupkan matanya sangat lama. Aku menahan kecupanku di keningnya. Aku ingin
membuatnya tenang terlebih dahulu sebelum aku membantu meringankan masalahnya.
Setelah sekian lama , Aku bisa
merasakan tanganya yang kekar melingkar dipinggangku. Kami berpelukkan. Dia
memelukku dengan eat dan mencium bahuku. Lalu Justin mendudukanku di
pangkuannya. Aku bisa melihat wajahnya yang polos dan tersenyum dengan indah.
Dia cekikikan dan suaranya terdengar parau.
“Okay. Now u smile I smile ,
Justin. Tell me everything. I’ll be here
for you” Aku memulai ercakapan sambil tertawa kecil dan mendekatlan hidungku
pada pipinya.
“Yah. Aku sudah memikirkannya
cukup lama. Aku tidak ingin menyakiti hati Selly-ku lagi. Aku ingin dia
bahagia. Aku ingin dia bebas. Dia tidak perlu menemmuiku lagi. Dia tidak perlu
menghadiri setiap konserku. Aku ingin dia bahagia dengan yang lain.”
Aku bisa merasakan satu persatu
air matanya menetes membasahi tanganku yang melingkar di lehernya. Sungguh aku
tidak kuat. Aku lebih tidak kuat melihatnya menangis daripada dia jalan dengan
SellyBear nya. Aku mendekatkan kepalanya ke leherku. Aku tidak sanggup
berkata-kata. Memang bkan aku yang memiliki masalah ini. Tapi ini menjadi suatu
‘masalah’ untukku.