VALDIS’ POV
Aku berbalik dan ingin segera pulang. Aku muak. Aku tidak ingin tangisku tumpah disini. Memalukan. Betapa bodohnya aku sangat mempercayai orang itu.
Baru beberapa langkah aku berjalan , aku bisa merasakan genggaman tangan yang dingin dan menarikku. Aku menoleh. Dia. Dia menarikku hingga ke basement. Aku hanya mampu mengikutinya. Aku tidak sanggup lagi menahan ini semua. Air mataku megalirbeitu saja. Aku terisak.
"Aku tidak mengnalmu. Aku tidak tau kamu siapa. Percuma. Semua ini sia-sia. Aku terlalu mudah untuk dibodohi. Duitku habis. Tidak ada guna ini semua." Aku lepaskan genggamanku dari benda yang telah aku beli. Hampir saja benda itu hancur.
Kuseka air mataku , dari sudut lain aku melihat dia mengambil benda itu.
"Apa ini?" Dia bertanya.
"Jam dan pajangan antik. Aku tidak tahu mana yang bagus. tanpa pikir panjang aku membeli keduanya." Aku menjawabnya masih dengan isakan tangis.
"Berapa?"
"Lihat saja struk ini" Aku merogoh sakuku dan memberikan padanya.
"Nanti aka kuganti. Sekarang kamu pulang saja. Angkutan umum banyak berlalu lalang disini"
Aku terbelalak. Aku tidak percaya kata-kata itu yang keluar setelah semua yang kulakukan.
"Hei!! Tega sekali. Dengan mudah kamu mengatakan hal itu. Susah payah aku melakukannya , ini yang kudapat? Waktuku terbuang , duit juga habis. Sekarang kamu bilang aku pulang naik angkutan umum??! Tidak waras." Aku melipat kedua tangan didadaku.
Dia mendengus dan menjawab.
"Bukannya kamu sediri yang mengatakan mengapa begitu mudah mempercayaiku. Kamu juga tidak kenal siapa aku. Jadi percuma aku mengantarmu pulang." Dia melirikku sebentar dan segera menuju mobilnya.
Aku benar-benar emosi kali ini. Aku ingin sekali meninjunya. Dengan hentakan kaki yang cukup keras , aku keluar dari basement yang besar ini. Aku terus saja berjalan. hingga akhirnya sebuah mobil berjalan pelan disampingku.
"Ayo masuk." Orang yang mengendarai mobil itu membuka pintu dri dalam. Aku tidak mengacuhkannya. Aku tetap berjalan.
Akhirnya mobil itu berhenti , dan orang itu menggenggam tanganku dengan keras dan segera mendudukkanku di kursi mobilnya.
ALEX'S POV
"Terserah. Kamu percaya atau tidak. Aku hanya ingin mengantarmu pulang." Aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. "Pintu tidak aku kunci. Kalau mau turun . turun saja. Dan jika aku menyiksamu , kamu bisa pukul aku dengan ini." Kutunjuk ke arahnya kaleng minyak pelumas yang masih disegel.
Aku tidak menerima jawaban apapun darinya. Dia tetap diam.
"Tapi , sebelum aku antar kam pulang , kerumahku dulu. Aku harus memberikan kado ini ke mamaku. Kamu bisa pegang ucapanklu."
Aku mulai menyalakan mobil. Aku melihat sekilas kearahnya. Dia menangis. Lagi. Aku tidak tahu apa yang ada dalm pikirannya saat ini. Hening. Aku mencoba mencari topik yang pas untuk dibicarakan.
"Aku panggil kamu apa?"
"Valdis" Suaranya terdengar parau. Hening lagi hingga sampai di kediamanku.
Segera kulepas sabuk pengamanku. Kuraih Kantong tadi dan aku segera turun.
VALDIS’ POV
Kulihat dia memasuki pintu rumahnya. Aku segera turun dari mobil. Halaman rumahnya sangat luas dan indah. Aku mendekati bunga-bunga yang tumbuh dengan indahnya. Aku menghirup baunya yang segar. Hati senang. Ini adalah hal yang sangat kusukai.
Aku sedang asyik dengan tanaman ini hingga akhirnya aku mendengar suara.
"Valdis!!" Suaranya berasal dari dalam rumah. Aku menoleh. Kulihat seorang ibu yang tampak anggun dan sedang memegang secangkir minuman.
Aku sedikit salah tingkah. Aku malu dengan kelakuanku barusan. Aku tetap berdiri di tempat sambil menundukkan kepala.
"Ayo sini!" Ibu itu memanggilku lagi. Akhirnya dengan perlahan aku mendekatinya.