Selasa, 10 November 2015

Under The Stars (Part 6)



VALDIS’ POV
 
   Kurapikan helaian rambutku yang menutup wajahku. Aku berjalan mendekat sambil terus memainkan jemariku. Gugup.

   “Terima kasih. Kamu sudah membantu Alex.” Suaranya sangat indah. Senyumnya mampu menyejukkan suasana. Aku tersenyum mendengarnya. “Ini adalah suatu keajaiban. Sudah lama sekali rasanya Alex tidak membeli hadiah untuk ayah.” Wanita itu tersenyum sambal memandang kearah Alex. Bisa kulihat Alex, yang baru kutahu namanya, langsung membuang muka.

   Ibu Alex mengusap rambutku.
   “Iya, Tante. Sama-sama.”
   “Maaf, mata kamu sembab , kenapa?” Ibu Alex memandang lekat wajahku.
   “Oh ini. Iya tante. Kurang tidur.”
   “Kalau begitu , mari masuk dulu.” Aku berjalan di belakang Ibu Alex.
   “Wah lagi sibuk ya tante? Kalau boleh Valdis juga ingin membantu.” Aku menawarkan diri. Melihat masih banyak dekorasi yg belum selesai.

ALEX'S POV
 
   Aku mengikuti jejak langkahnya yang kian kemari menyelesaikan dekorasi ulang tahun ayahku. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku tidak mau terlalu banyak bericara dengannya. Lebih baik aku menunggunya sampai dekornya hamper sempurna.

   Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Valdis berpamitan pada ibuku untuk pulanng
   “Terima kasih banyak ya. Kamu sudah banyak membantu hari ini. Lain kali jangan sunkan untuk mampir kemari.” Ibu mengusap pundak gadis itu.
   “Iya. InsyaAllah tante. Pamit ya tante. Assalamu’alaikum”
   “Wa’alakumsalam. Hati-hati ya. Kamu juga Lex.”Ibu menngelus pipiku.
   “Iya,ma” Aku langsung melesat menuju mobil.

   Kami sudah hampir setengah jalan. Dan di mobil suasana sangat gaduh. Valdis sibuk membongkar tasnya.
   “Sepertinya handphone-ku tertinggal di rumahmu. Bisakah kita kembali ?” Aku bisa melihat dari sudut mataku, dia menatap penuh harap. Aku tidak menjawab apa-apa. Aku langsung memutar kemudi menuju rumah.

   Hampir sampai , aku melihat ada mobil di halaman rumahku.

VALDIS’ POV

   Mobil Alex kini sudah parkir di depan pintu rumah. Dari sini aku bisa melihat seorang laki-laki dan Ibu alex. Mungkin Ayahnya. Aku sangat cemas. Dengan hati-hati kuarahkan  pandanganku kepada Alex. Tangannya terkepal di kemudi mobil. Alex langsung turun dari mobil dan masuk dengan tergesa ke dalam rumah.
   Tidak berapa lama, Alex keluar dengan rahangnya yang mengeras. Dia langsung melemparkan handphone ke atas tasku. Aku bisa melihat. Raut wajahnya berubah lagi seperti saat aku bertanya tentang apa yang disukai ayahnya di Mall tadi. Aku kembali kecewa dengan situasi ini.
   Di tengah perjalanan , aku meghidupkan radio agar keheningan ini tidak membuatku gugup. Dan Alex tidak terusik sedikitpun.
   “Lex, jangan pulang dulu. Tunggu disini.” Aku langsung bergegas turun setelah sampai di depan rumahku. Dengan sigap aku langsung mengganti bajuku dan mengambil tas yang telah kumasukkan barang seperlunya.
   Kukecup pipi mamaku dan berpamitan.
   “Ma. Pamit ya keluar. Magrib aku pulang. Urgent. Assalamu’alaikum” Sebelum melesat keluar rumah , aku bisa mendengar ibuku mengomel tentang kebiasaanku ini.

   DI mobil, senyumku dibalas denan tatapan sinis oleh Alex. Aku menghembuskan napas. Menahan amarahku.
   “Taman Hiburan. Waktuku hanya sampai magrib.” Aku menjawab tatapannya dengan nada bicaraku yang datar. Suara mesin mobil langsung terdengar dan Alex hanya menatap kososng kedepan. Tidak merespon apa-apa.
   ‘Lex, aku hanya ingin menghiburmu.’ Gumamku dalam hati.


ALEX’S POV

   Aku mengikutinya yang berjalan ke tempat permainan memanah.Dia langsung membayar dan bermain. Tapi tak satupun sasaran yang tepat. Sampai akhirnya raut wajahnya berubah pasrah. Dia membalikkan badannya dan menunduk. Cih!

   “Mas, anak panahnya satu.” Aku langsung mengambil dan melempar anak panah itu. Dan dengan seketika mengenai sasaran.
   Penjaga kios itu langsung memberikan boneka pandag berukuran sedang kepadaku.
   Valdis sangat gembira menerimanya. Dia berteriak seperti anak kecil.
   “Memalukan” aku mendengus kesal ke arahnya.
   “Wajar saja. Aku perempuan dan senang mendapat boneka. Terimakasih! “ Dia berceloteh sambil terus memeleuk erat boneka itu. Dia juga mencium bonekanya berrtubi-tubu. Aku tidak tahan lagi. Benar-benar konyol. Aku tertawa.
    “Ternyata kau tidak kehilangan syaraf tertawamu.” Gadis itu cekikikan menertawakanku.. Aku langsung diam.

    Kini, kami ada di antrian rollercoaster. Saat mengantri, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menerobos di depan Valdis. Aku yg berada di belakang Valdis langsung menarik baju belakangnya dan menariknya keluar antrian.
   “Tolong etikanya. Kita semua antri disini. Jangan sesuka hati menerobos begitu saja.”  Kulepaskan genggamanku di baju laki laki itu. Dia hanya bisa meringis dan pergi.
   Saat kembali ke antrian, Valdis menoleh ke arahku dan tersenyum. Lagi.

 
VALDIS’ POV

     Kini kami sudah duduk di atas rolercoaster. Kakiku gemetar. Ini salah satu keinginaku yang akhirnya terwujud. Aku merasa takut sekaligus senang. Tapi aku harus mampu menahan rasa takut ini. Aku lihat Alex hanya duduk tenang saja.
    Saat rollercoaster berjalan, aku mentup mata dan berteriak. Aku juga menggenggam kuat pegangan di depanku.

ALEX’S POV
   
    Aku hanya mampu meremas sweaterku. Aku tidak mau menyerah sekarang. Jujur aku sudah tidak kuat. Perutku berguncang. Bisa kurasakan seisi perutku ingin keluar semua. Aku akan berusaha menahannya  sampai nanti.

Rabu, 18 Februari 2015

Maaf...

Hai semua!

Aku sangat ingin melengkapi part-part Under The Stars yang lainnya. Tapi file yang sudah aku buat ada di laptop saudara aku. Saudara aku tinggal di beda provinsi dengan ku huuu sedihnya :(

Jadi untuk Pembaca aku mohon maaf ya. Untuk sementara tidak bisa melanjutkan membaca ceritanya. Bisa aja sih aku buat lanjutan ceritanya, tapi mungkin akan sedikit berbeda.

Untuk penggantinya, aku akan membuat short story. Enjoy it in the next post!!

SV