Minggu, 15 September 2024

Cerita Tentang Intovert


Sebenarnya saya tidak bisa menilai apakah saya seorang intovert atau bukan. Karena, jika saya bertemu dengan orang yang saya nyaman untuk berinteraksi dengannya, saya akan cenderung lebih banyak bercerita. Saya sangat suka bercerita, tapi tidak kepada keluarga saya. Alasannya? Ya, saya yakin bagi yang membaca ini pasti paham.

Dulu saya orangnya sangat gampang tersinggung, mungkin karena saya masih dalam usia beranjak dewasa? Sekarang, jika saya tidak nyaman atau tidak suka dengan seseorang, saya lebih memilih dia, mundur dan berusaha untuk tidak berinteraksi dengan mereka. Karena dengan kehadiran mereka membuat saya lelah hati dan pikiran. Energi saya terasa seperti diserap oleh mereka.

Kadang saya juga bingung, saya sangat suka menganalisa orang-orang introvert. Saya berandai, apakah saya bisa seperti mereka. Sangat mudah untuk berbaur dengan kelompok, dan selalu terlihat percaya diri. Semakin saya analisa mereka dan membandingkannya dengan diri saya, saya perlahan dapat melihat celah dalam diri saya.

Saya hidup selalu dibawah tekanan, walaupun jika dilihat dari luar, saya seperti bahagia dengan kehidupan ini. Saya bisa dibilang hidup dengan keluarga yang lengkap, ekonomi yang berkecukupan, dan bisa dibilang saya itu bisa mendapatkan apa yang saya mau, dulu. Karena saya termasuk anak bungsu, tapi tidak jadi bungsu. Jadi kalau saya minta sesuatu, biasanya akan diwujudkan.

Namun, hidup berada dibawah bayang-bayang orang, itu sulit. Dalam artian, saya menjalani hidup ini bukan atas kemauan saya sendiri. Hingga akhirnya, saya mulai dewasa, dan ingin menentukan pilihan sendiri. Tapi, saya tidak bisa mewujudkan itu. Karena adanya pihak yang tidak menyetujui hidup saya.

Sekian dulu.