Senin, 13 Januari 2014

Under The Stars (Part 2)

VALDIS' POV
   Aku berkeliling untuk mencari buku yang di perlukan. Sambil mencari, aku juga membalik halaman demi halaman komik. Buku yang kubutuhkan ada tiga. Baru satu yang kudapat. Aku tidak langsung membeli bukunya. Kutawar harganya terlebih dahulu.

ALEX'S POV
   Setelah bermain futsal, kemudi mobil kuarahkan ke rumah. Seperti biasa. Sesampainya di rumah, orangtuaku bertengkar lagi.Tapi setelah itu mereka berbaikan kembali. Aku pergi ke atas untuk membersihkan badanku. Setelah itu, aku berpamitan kepada orangtuaku untuk keluar. Bosan jika harus melihat mereka bertengkar terus.

   Aku hanya berjalan kaki. Lalu aku mampir ke food court dan membeli minuman di dekat bengkel. Kulangkahkan kakiku kembali dan sekarang aku berada di loakan. Aku mulai membaca dan berkeliling. Ada suara mencurigakan yang kudengar. Aku penasaran. Takut sesuatu terjadi. Aku mempelankan jalanku dan mengintip ke arah sumber suara. Ternyata ada seorang perempuan yang sedang kesulitan berusaha mengeluarkan kakinya yang terjepit di sela-sela besi selokan.

   Kasihan sekali. Aku menghampiri perempuan itu dan menarik paksa kakinya keluar. Ternyata aku terlalu kuat melepaskannya hingga ia terjatuh. Aku langsung berdiri.

   "Disini gelap. Jangan ceroboh" Aku membentaknya dan menatapnya marah. Bisa kulihat wajah dia kaget dan mencoba menahan amarahnya,

   "Iya. Terima kasih" Dia berdiri dan merapikan sepatu bootnya. Aku berbalik dan menuju  loakan itu kembali.


VALDIS' POV

   Aneh. Kalau tidak ikhlas, kenapa harus membantuku? Menyebalkan. Aku mengambil bukuku yang tergeletak di tanah. Hanya buku. Berarti satu buku lagi ketinggalan. Aku tergesa melangkahkan kakiku sambil membersihkan jaketku yang kotor akibat terjatuh tadi. BRUK! Aku menabrak punggung seseorang.

   "HEI!! Kenapa? Sudah dibantu  , malah sengaja menabrak!" Kudengar bentakan itu lagi. Orang yang sama yang menolongku. Aku tidak kuat lagi. Akhirnya kubalas perkataannya tersebut.

  "Jangan salah sangka. Aku tidak sengaja" Lalu segera ku ambil buku ku yang ketinggalan di kios tempat laki-laki itu berdiri. "Maaf, pak. Bukunya ketinggalan" Bapak itu tersenyum dan mengiyakan.

   "Oh. Dasar teledor. Tadi tersangkut. Sekarang buku yang ketinggalan."Telingaku panas mendengar nada suaranya yang sinis itu mengejekku. Aku tidak mau mencari masalah. Aku hanya menatapnya. Ternyata dia lebih dulu menatapku. Dia tidak melepaskan pandangannya dari ku. Aku heran

   "Belum puas menhina saya?" kuhentakkan kakiku dan berjalan menjauhinya. Aku berbalik untuk melihataapa dia masih memmandangiku. Ya. Dia masih melihatku. Lalu dengan segera dia memasang topinya dan berjalan menuju kios lain di loakan tersebut.

   Di mobil , aku menceritakan kejadian saat aku terjatuh dan dibantu. Ayahku hanya tertawa dan menasehatiku. Aku beruntung. Karena dia tidak berbuat macam-macam padaku.


ALEX'S POV
   Saat menuju perjalanan pulang , aku berfikir. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya. Aku pernah bertemunya saat di SPBU kemarin. Tapi bukan itu. Sebelumnya lagi , rasanya aku pernah bertemu dia. Tapi di mana?

   'Menyebalkan!' Aku mendengus kecil dan memegangi kepalaku.

   Om Adi akan berangkat ke Kalimantan. Dia memintaku untuk mengantarnya ke bandara. Aku berangkat kerumahnya dan menunggu di teras. Saat sedang duduk , aku mendengar suara kucing yang mengeong. Suaranya seperti anak kucing. Aku berdiri dan melihar keluar. Ada anak kucing yang berusaha keluarr dari got. Aku mengankatnya keluar dan melihatnya berjalan tertatih melewati mobilku. Dheng! Aku merasakan sesuatu. Dalam benakku aku pernah menabrak sesorang. Wajahnya muuncul dalam fikiranku. Aku berfikir dan berusaha mngingat apa yang terjadi.

   Perempuan itu. Perempuan itu yangtelah kutabrak saat akan menjemput mama di supermarket. Sudut bibirku naik. Berapa kali aku harus melihatnya? Lalu kudengar Om Adi memanggil untuk segera berangkat.

   Dalam perjalanan, Om Adi memintaku untu turun dan membelikanku pulsa. Aku langsung keluar. Penjaga counter tersebut memintaku unuk menunggu 15 menit karena ada masalah pada jaringan. Akhirnya aku beputar dan melihat ke arah case handphone. Aku tertarik ke case yang berwarna coklat. Lalu aku langsung memegang benda tersebut, bersamaan dengan tangan lain yang juga  memakai gelang hijau.

  Tangannya langsung refleks untuk lepas dari case tersebut. Dia melihatku sekilas dan seketika dia berbalik lagi melihat ke arahku. Kelopak matanya membesar. Aku menaikkan alis menunggunya berbicara padaku. Tapi tidak ada kata kata yang keluar.

   "Berapa kali harus ketemu? Selalu disaat yang tidak tepat" Akhirnya aku yang memulai pembicaraan.


VALDIS' POV
   Aku menggemeretukkan gigiku. Kutatap matanya dengan emosi. Tidak. Ini bukan saat yang  tepat untuk berdebat. Aku langsur mundur dan pergi ke samping Lily yang sedang mengecek handphone-nya yang rusak. Aku bisa merasakannya. Orang itu masih menatapku dalam dari belakang. Kukepalkan tanganku agar emosiku tidak keluar. Lily melihatku dengan heran. Lily juga merasa ada yang sedang memperhatikan mereka. Lily melihat ke arah kanan kami. lalu berbalik melihat ke arahku lagi.

   Laki-laki itu keluar dari counter melewati punggungku. Bisa kurasakan dengan sengaja dia lewat dibelakangku dan jaket yang berada di bahu kanannya mengenai kuciran rambutku.

   "Eh itu siapa? Dari tadi dia melihat kamu terus." Lili bertanya setelah laki-laki itu pergi.
   "Tidak tahu. Sudahlah."Aku kesal
   "Tapi dia cukup keren." Lily tertawa ke arahku.
   "Ssst. Tidak usah dibahas."

   Endi , Raisa , dan Sasa menunggu kami di food court sebelah counter. Kami lalu pergi ke mall dengan berjalan kaki. ||~||

Tidak ada komentar:

Posting Komentar