Sabtu, 18 Januari 2014

Under The Stars (Part 4)



VALDIS’ POV
   Handphone-ku bergetar. Dari Raisa.
  
   "Halo. Kamu dimana?" Raisa menelpon dari seberang sanam

   "Aku ada perlu sebentar. Kalian lanjutkan saja hunting-nya." Aku menjawab dengan nada lemas.

   "Tapi kamu tidak apa-apa kan? Kenapa suara kamu seperti itu?" Raisa bertanya dengan nada cemas.

   "Tidak apa-apa. Hanya sedikit capek saja. Dah." Aku menutup telponku.

   Aku mendongak dan melihat ke arah laki laki yang menarikku dengan paksa tadi. Sekarang dia sedang bersandar di dinding dekat lift.

   "Apa?" Aku melihat heran ke arahnya.

   "Bukannya kamu yang bersedia membantu mencari hadiah untuk ayahku? Sekarang aku yang harus bilang 'apa' " Laki-laki itu mendengus kecil. Aku bingung memanggilnya apa.

   "Ok. Sekarang ikuti aku" Aku melangkah menuju toko yang menjual pakaian laki-laki. Aku terus berputar mengitari toko tersebut. Sampai akhirnya dia menyentuh bahuku. Aku tertawa dalam hati. Mungkin dia sudah menyadari bahwa aku telah mengerjai-nya sedari tadi.

   "Kamu mau beli apa? Dari tadi hanya berkeliling terus." Matanya menatapku dalam.

   "Aku salah? Aku tidak tau ayah kamu menyukai apa. Bagaimana caranya mengetahui apa yang harus aku beli?"  Dia terdiam mendengar kata-kataku barusan. Dia menunduk.

   "Aku tidak tahu." Setelah menmbalasku , bisa kulihat raut wajahnya berubah. Dia berbeda. Tidak sama seperti saat aku pertama bertemu dia. "Cari saja apa yang kamu suka dan menurutmu bagus." Lalu dia berbalik dan menyematkan jemarinya di rambutnya.

   Aku takut salah bicara. Lalu aku pergi keluar toko dan menjauhi dia. Aku naik ke lantai atas. Dan turun lagi. Keluar masuk dari toko ke toko. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bersemangat. Aku tidak merasakan amarahku lagi.Aku tidak tega setiap kali melihat seseorang yan bersedih.

   Aku mendapatkan sebuah jam tangan dan sebuah pajangan mobil antik. Kedua benda ini pasti mahal. Aku bingung takut duitku tidak cukup. Lalu aku meminta kepada pelayannya untuk mengecek berapa sisa saldo kartu atm-ku. Rp.2.000.000,00. Sebenarnya sebagian dari duit itu adalah milik adikku. Tapi apa mau dikata. Aku terpaksa membeli keduanya.

   Setelah hadiah itu dibungkus. Aku segera keluar dari toko. Aku teringat sesuatu. Laki-laki yang tadi tidak bersamaku lagi. Aku kembali ke toko pakaian tadi dengan setengah berlari. Kukerakan mataku mencari dimana dia. Aku tidak menemukannya. Aku merasa menyesal. Kenapa harus percaya begitu saja dengannya. Aku rasanya ingin menangis dan membung dua benda bodih ini. Aku menarik napasku dalam dan menahan tangisku.

ALEX'S POV
   Aku melihatnya di depan pintu toko itu. Kenapa dia menundukkan kepala? Aku lantas membuang tisu bekas toilet dan mendekatinya. ||~||

Tidak ada komentar:

Posting Komentar