ALEX'S POV
Di mobil , aku menceritakan kejadian di counter tadi kepada Om Adi. Dan aku juga menceritakan saat aku menabrak dia agar om Adi mengerti. Om Adi hanya tertawa.
"Yah. Syukurlah. Untunglah kamu tidak menabrak dia dengan mobil" Om Adi menggodaku.
"Mungkin kalau itu terjadi, Alex tidak bisa mengantarkan Om hari ini ke bandara." Kami tertawa bersama.
Om Adi telah sampai di bandara. Aku memutar kemudiku. Aku tidak langsung pulang karena ingin mencari kado unutuk ayahku. Aku kini berada di tengah kote. Mobilku telah kuparkirkan di tepi jalan. Jemariku sibuk memainkan layar smartphone-ku. Aku sedang browsing tenatang kado apa yang bagus.
Aku menelepon Tante Rika.
"Apa kado yang biasa tante berikan ke Om Adi?" Aku memulai pembicaraan.
"Ya tergantung. Apa yang dia butuhkan atau apa yang dia sukai. Maaf, Lex. Tante lagi ada klien. Nanti saja dilanjutkan pembicaraan." Telepon sudah ditutup.
Aku menyandarkan punggugku di kursi. Aku bingung. Tidak tau apa yang cocok untuk menjadi hadia spesial untuk ayahku. Aku juga harus pulang cepat untuk mempersiapkan kejutan sebelum ayahku pulang. Aku memandang jauh keluar. Aku melihat beberapa anak SMA yang sedang tertawa bersama sedang berjalan. Aku berfikir, aku harus membuntuti mereka.
Aku memutar kemudi mobil hingga berada di belakang mereka. Tidak lama kemudian , mereka berjalan menuju mall di dekat sana. Aku menghidupkan mobil dan memarkit nya di parkiran basement mall tersebut. Setelah berada di mall , aku duduk di bangku tunggu khusus customer dan menunggu anak SMA itu datang.
Orang-orang terus berlalu lalang. Aku memperhatikan dengan seksama. Akhirnya yang kutunggu datang. Lalu pelan-pelan berjalan dan naik ke lantai 2. Aku bediri di pinggir etalase dan memperhatikan mereka.
Mereka menuju lantai 3. Aku membuntuti. Aku mencari saat yang tepat melakukannya. Aku takut mengagetkan yang lain. Aku takut membuat keributan. Setelah sekian lama membuntuti , aku melihat salah satu menunduk dan mengikat tali sepatunya. segera kupercepat langkak. Aku melihat dia berdiri dan segera lengannya kutarik. Aku mempercepat jalanku dan terus berusaha menggenggam tangannya yang berusah berontak. Aku membawanya ke tempat perabot rumah tangga dan mendorongnya ke samping lemari. aku tidak percaya aku melakukan hal ini.
"Carikan hadiah yang cocok untuk ayahku," Aku melepaskan genggamanku darinya, Dia hanya menatapku dan mulai melangkahkan kaki. Kutarik bahunya.
"Aduh! Tolong jangan kasar. Dari awal kenapa selalu kasar. Kenapa? Kenapa harus aku?" Perempuan itu berbicara sambil memegangi bahunya. Aku juga bisa melihat bekas genggaman tangan ku di lengannya.
"Waktuku tidak banyak. Ayo temani aku sekarang juga," Aku meregangkan rahangku dan mulai menggenggam tangannya kembali. Tapi dengan cepat dia menarik paksa tangannya,
"Aku tidak kenal kamu. Untuk apa membantu kamu. Aku juga tidak percaya pada orang yang tidak kukenal. Aku tidak tahu niat kamu sebenarnya apa.." Dia membalasku. Lalu aku membuang muka. Dan kembali menatapnya.
"Alex, Sudah? Sekarang cepat temani aku." Aku menatap dalam matanya. Dia tidak merespon apa-apa. Dia mengalihkan pandangannya. Aku mengibaskan tanganku didepannya. Dia kembali menatapku.
"Tidak. Aku tidak percaya. Kamu juga tidak meminta tolong padaku." Dia membalasku dengan tatapan sinis.
"Banyak omong. Ayo." Aku menarik tangannya. "Kamu tidak bisa lari. Karena kita berpegangan tangan seperti ini. Orang akan mengira kita berpacaran." Aku berbisik kepadanya sambil tertawa kecil. "Aku juga yakin kamu tidak nyaman dengan keadaan ini." Aku melihat ke arahnya dan tersenyum sinis. Dia memutar bola batanya.
"Ok. Aku temani dan akan aku carikan. Sekarang tolong lepaskan" Dia menegaskan kata-katanya sambil menunjuk ke tangan kita.
"Mana bisa aku langsung percaya." Aku mengalihkan pandangan darinya.
"Terserah. Kalau kamu tetap menggenggam tanganku seperti ini. Jangan harap aku akan bersedia untuk berbicara lagi." Dia menarik tas ranselnya. Aku lepaskan pelan-pelan. Takut dia akan kabur. Ternyata tidak. Dia tetap mengikuti langkahku. ||~||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar