Minggu, 12 Januari 2014

Under The Stars (Part 1)

VALDIS' POV
   "Valdis!! Jangan lupa nanti aku telfon." Raisa meneriakiku dari jauh.
   "Iya. Sip!!" Aku membalasnya dan mengacungkan jempol.

   Tinggal beberapa hari lagi , libur akan segera tiba. Semua pasti senang. Terutama aku. Kadang merasa lelah dan bosan. Tugas yang banyak dan harus bangun pagi.

   Aku berjalan menyusuri gang menuju rumahku. Banyak anak kecil terlihat asyik bermain. Sudah menjadi kebiasaan pada sore hari di sekitar kompleks perumahan ini. Telfon genggamku bergetar. Aku merogoh sakuku. Lalu kubaca SMS sambil berjalan. Tanpa kusadari , ada seseorang yang setengah berlari keluar dari pagar rumah dan menabrakku. Bahunya menerjang pelipisku dan telfon genggamku terjatuh. Aku mendongak dan melihat ke arah orang tersebut. Dia hanya menatapku sinis dan mengernyitkan dahi. Tak lama setelah itu dia lantas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

   'Hah? Ternyata bukan hanya di sinetron ada orang seperti itu.' Aku lantas memperbaiki kacamataku dan mengambil telfon genggamku.

   Sesampainya di rumah , aku langsung memeriksa kulkas dan mengambil sebatang coklat. Lalu aku mengambil segelas air dan menuju kamarku. Aku langsung mengecek akun media sosial melalui smartphone-ku.


ALEX'S POV
   Setelah berkunjung ke rumah Om Adi , aku segera menuju supermarket untuk menjemput mama. Hari ini mama mengambil cuti karena ingin menyiapkan pesta ulang tahun papa. Beberapa hari lagi hari spesial papa akan datang.Mama memintaku untuk membantunya membuat kue. Hal ini adalah hal yang tidak kusuka. Bukan karena aku benci memasak atau tidak mau membnatunya. Tapi aku memang tidak suka kue. apalagi cream-nya. Akhirnya mama meminyta bantuan kepada Bu Nani , tetangga kami.

   Aku sangat tidak suka berada di rumah. Aku berencana untuk pergi ke tempat tongkronganku. Setelah sampai disana , aku dan yang lain langsung berangkat menuju studio. Bukan untuk latihan. Hnaya sekedar pelepas suntuk saja.

   Ditengah perjalanan , bensinku habis. Aku mengarahkan mobilku ke SPBU. Antrian sangat panjang. Aku menyerahkan kendali mobilku ke Baim. Lalu aku dan Desta keluar mobil. Ken menemani Baimdi mobil.

   Aku melihat ke arah seorang gadis yang sednag sibuk memilih minuman di minimarket SPBU. Terus kupandangi dia. Kurasakan Desta menyikutku.

   "Eh jangan ngelamun, Lex," Desta setengah tertawa menegurku.
   "Hah? Oh nggak. Kayaknya pernah liat dia." Aku menunjuk ke arah minimarket.
   "Ampun. Lucu banget. Ya iyalah pernah liat. Dunia kan luas." Desta tertawa sambil mengunyah permen karet. " Eh antrian udah pendek. Masuk Lex."

   Aku masih penasaran. Kubuka jendela mobil dan aku melihat ke arah gadis itu lagi. aku terus menatapnya. Dan aku melihatnya berjalan keluar dari minimarket itu. Lalu dia mendongak dan melihat ke arahku sambil mengernyitkan dahi. Aku mengangkat sudut bibirku dan menutup jendela. Aku melihatnya menggelengkan kepala.

VALDIS' POV
   "Pa, bisa tolong antar Valdis ke loakan?" Aku merapikan rambutku sambil berjalan ke arah ayahku.
   "Bisa. Kebetulan papa juga mau ke bengkel. Tunggu  , papa ambil dompet dulu."

   Di loakan kendaraan tidak bisa masuk. Papa menunggu di bengkel yang tidak jauh dari tempat loakan. Aku turun dari mobil dan menarik resleting jaketku. ||~||

Tidak ada komentar:

Posting Komentar